Makalah tradisi islam nusantara

MAKALAH TENTANNG TRADISI ISLAM NUSANTARA
KATA PENGANTAR MAKALAH 

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Tradisi Islam Nusantara. 
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. 
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Beberapa tradisi Islam kita warisi sampai sekarang, antara lain ziarah ke makam, sedekah, sekaten. Setiap daerah dimana Islam masuk sudah terdapat tradisi masing-masing. Ada yang merupakan pengaruh Hindu dan Budha adapula tradisi asli yang sudah turun temurun. Seperti halnya di Sumatera, di daerah lainpun para muballigh memilih mempertahankannya namun dengan meberikan warna Islam.

B. Permasalahan
Apa tradisi Islam di nusantara?

C. Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui sejarah tradisi islam di Indonesia.
2.      Menambah wawasan.
3.      Memenuhi tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tradisi
Tradisi islam di nusantara adalah sesuatu yang menggambarkan tradisi islam dari berbagai daerah di indonesia yang melambangkan kebudayaan islam dari daerah tersebut.

B.    Tradisi dan seni bernuansa islam di nusantara
Setiap daerah dimana islam masuk sudah terdapat masing-masing. Ada yang merupakan pengaruh hindu dan budha adapun tradisi asli yang sudah turun temurun. Seperti halnya di Sumatera, di daerah lainpun para mubaligh memulai memilih mempertahnkannya namun memberikan warna islam.
Berikut ini beberapa tradisi Islam yang ada di Indonesia:
1.      Ziarah
Ziarah adalah kegiatan mengunjungi makam. Ziarah berkembang bersama dengan tradisi lain. Di Jawa, misalnya pengunjung di sebuah makam melaksankan ziarah dengan cara melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut adalah membaca Al Quran atau kalimat syahadat dan  berdoa.
2.   Tahlilan
Tahlilan adalah upacara kenduri atau selamatan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca surat Yasin dan beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat tahlil (laailaaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah). Biasanya diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT (tasyakuran) dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1000 dan khaul (tahunan).
Tradisi ini berasal dari kebiasaan orang-orang Hindu dan Budha yaitu kenduri, selamatan dan sesaji. Dalam agama islam tradisi ini tidak dapat dibenarkan karena mengandung unsur kemusyrikan. Dalam tahlilan sesaji digantikan dengan berkat atau laut pauk yang bisa dibawa pulang oleh para peserta. Ulama yang mengubah tradisi ini adalah Sunan Kalijaga dengan maksud agar orang yang baru masuk Islam tidak terkejut karena harus meninggalkan tradisi mereka, sehingga mereka kembali ke agamanya.
3.   Sekaten
Sekaten adalah upacara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Keraton Yogyakarta atau Maulud. Selain untuk Maulud sekaten diselenggarakan pula pada bulan Besar (Dzulhijjah). Pada perayaan ini gamelan Sekati diarak dari keraton ke halaman masjid Agung Yogya dan dibunyikan  siang-malam sejak seminggu sebelum 12 Rabiul Awwal. Tradisi ini dipelopori oleh Sunan Bonang. Syair lagu berisi pesan tauhid dan setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat syahadat atau syahadatain, kemudian menjadi sekaten.  Syair lagu berisi pesan tauhid dan setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat sahadat atau syahadatain, kemudian menjadi sekaten. Perayaan Sekaten dikenal di Yogyakarta, Surakarta, Jawa Timur, dan Cirebon.
4.   Grebeg Maulud 
Grebek Maulud merupakan bagian dari rangkaian acara Grebeg Keraton yang rutin diadakan pada setiap tahunnya. Grebeg Keraton sendiri merupakan upacara adat di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan sebagai kewajiban sultan untuk menyebarkan serta melindungi agama Islam. Nama grebeg berasal dari peristiwa miyos atau keluarnya dari dalam istana bersama keluarga dan kerabatnya untuk memberikan gunungan kepada rakyatnya. Pada malam tanggal 11 Rabiul Awwal ini Sri Sultan beserta pembesar kraton Yogyakarta hadir di masjid Agung. Dilanjutkan pembacaan pembacaan riwayat Nabi dan ceramah agama.
5.  Takbiran
Takbir adalah seruan atau ucapan Allahu Akbar 'Allah Mahabesar': menjelang Idhul Fitri dan Idhul Adha. Takbiran dilakukan pada malam 1 Syawal (Idul Fitri) dengan mengucapkan takbir bersama -sama di masjid/mushalla ataupun berkeliling kampung (takbir keliling).
6.   Muludan
 Muludan adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan mengadakan Muludan. Peringatan ini dipelopori oleh Sultan Muhammad Al Fatih untuk membangkitkan semangat pasukan Muslim pada perang Salib. Peringatan maulid Nabi sebenarnya tidak diperintahkan oleh Nabi melainkan budaya agama semata. Di Indonesia peringatan ini dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari Presiden sampai rakyat di desa. Kegiatan ini diisi dengan pembacaan riwayat Nabi (Barzanji) maupun kegiatan lainnya seperti perlombaan.
7.   Tabut/Tabuik
 Dilaksanakan pada hari Asyura (10 Muharram) untuk memperingati pembantaian Hasan dan Husain bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah) oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di Karbela. Dilakukan dengan mengarak usungan berwarna-warni (tabut) di pinggir pantai kemudian dibuang ke laut lepas. Pengarakan biasanya dilaksanakan setelah terlaksananya acara lainnya dengan menghidangkan beraneka macam hidangan makanan. Upacara ini dilaksanakan secara turun temurun di daerah Pariaman (Sumatera Barat) dan Bengkulu.
8.  Adat Basandi Syara
Syara Basandi Kitabullah, Masyarakat Minangkabau dikenal kuat dalam menjalankan agama Islam, sehingga adat mereka dipautkan dengan sendi Islam yaitu Al Quran (Kitabullah). Adat Minangkabau kental dengan nuansa Islam sehingga melahirkan semboyan adat basandi syara, syara basandi Kitabullah (Adat bersendikan syara dan syara bersendikan Kitab Allah).  
9.   Seni Tradisi Genjring
Seni tradisi disini banyak ditemukan di daerah Purwokerto, dan Banyumas pada umumnya. Di kalangan masyarakat Banyumas, kesenian ini tradisi ini lebih banyak ynag berbasisi di mesjid. Pada masa lalu, kesenian ini cukup efektif untuk melakukan pembinaan generasi muda, karena hampir setiap malam anak-anak muda bertemu di mesjid. Namun saat ini kesenian ini sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan kaum muda, sehingga jumlahnya didominasi kaum tua (50 tahunan).
Dalam seni tradisi islam ini, syiiran shalawat dilantunkan secara rampak dengan diiringi tabuhan rebana, tanpa tarian. Oleh masyarakat lokal, tabuhan rebana ini disebut genjring hal ini mungkin dimaksudkan untuk mendekati bunyi rebana yang mirip bunyi “jring”, orang bilang “ genringan”. Seperti halnya kesenian islam lain yang memberikan puji-pujian bagi Nabi Muhammad SAW.
Kesenian ini di msayarakat Banyumas seringkali digunakan untuk mengarak sunatan. Dalam prosesi ini, gengring dilakukan sambil jalan beberapa ratus meter menyambut datangnya pengantin sunatan yang datang dari tempat disunat tersebut. Si anak dinaikkan di becak yang telah dihias, yang kemudian dibelakangnya diikuti para pemain genjring. Menurut keterangan masyarakat Purwokerto dan Banyumas hal ini dimaksudkan selain untuk mnambah kemeriahan pesta, mengurangi rasa sakit pada si anak (karena keramaian tertuju pada keramaian), juga dimaksudkan dengan adanya hikmah dari pembacaan sholawat tersebut.
Kesenian ini biasanya dimainkan antara 12 sampai 30 orang. Penabuh terbang bisa bergantian dan nyanyian dilakukan secara serempak dengan menggunakan bahasa arab.
10. Kesenian singiran
Kesenian ini sangat jarang ditemui karena semakin punah, seiring kemajuan jaman, meninggalnya para pelakunya, dan sengaja di counter kelompok tertentu (islam modern) karena dianggap ada penyimpangan dari islam. Kesenia singiran merupakan salah satu bagian integral dari ekspresi seni tardisi umat islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati seribu hari kematian salah satu warga. Jika dilihat dari isinya, seni tradisi ini berisikan nasihat-nasihat bagi si mayat dan nasehat kebaikan bagi anak cucu yang masih hidup untuk selalu mendoakan orang tua mereka. Kelompok kesenian ditemukan salah satunya  di daerah Tamantirto, Kasihan,Bantul,DIY. Kelompok ini menamakan keseniannya sebagai “singir ndajaratan” yang artinya “tembang kematian”. Selain menarasikan nasehat-nasehat kebaikan kesenian ini jud=ga dapat dimaksudkan sebagai upaya untuk mendoakan para leluhur melalui pembacaan narasi syiiran. Kesenian semakin digerus oleh persperktif islam modenis dan banyak digantikan dengan tahlil dan yasianan. Kesenian ini tidak menggunakan alat musik, namum diiringi tahlil bersma sepanjang pembacaan singir-singirnya. Sedangkan irama atau langgam singir digunakan langgam-langgam macapat. Secara garis besar kesenian ini diawali pembacaan tahlil, kemudian bacaan singir secara bergantian, dan kemudian pembacaan sholawat (srokal) serta diakhiri doa.
11. Sholawat Jawi
Kesenian sholawat ditemuka di daerah Pleret, Bantul, dan beberapa juga sudah menyebar di sekitar kecamatan Pleret, atau bahkan di sekitar Kabupaten Bantul. Kesenian ini merupakan salah satu bentuk ketegasan jawanisasi kesenian islam. Kesenian yang berkembang seiring dengan tradisi peringatan maulid nabi ini mengartikulasikan syair atau syiiran shalawat kepada nabi Muhammad dengan medium bahasa jawa, bahakan juga dengan melodi-melodi jawa.
Kyai soleh yang menyebabkan tembang-tembang berbahasa jawa yang sampai saat ini tulisannya menjadi pedoman para pelaku seni sholawat jawi, meskipun beliau sudah lama meninggal.
12.  Isra’ mi’raj Rasulullah saw.
a.    Isra’ (Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Asqha)
Sepanjang perjalanan itu Rasulullah ditemani oleh Jibril as dan Israfil as. Tiba di tempat-tempat tertentu, Rasulullah diarahkan oleh Jibril supaya berhenti dan bersembahyang dua rakaat. Secara etimologis, isra’ berarti berjalan pada waktu malam atau membawa berjalan pada waktu malam. Dalam kajian sejarah islam isra’ berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad saw. pada malam hari dalam waktu yang amat singkat dari masjidil Haram di makkah ke masjidil aqsha di Yerussalem. Tempat-tempat berkenaan adalah Madyan dan Tursian, yaitu tempat nabi Musa a.s. berbicara dengan Allah; Baitul-Laham (tempat Nabi Isa a.s. dilahirkan).
Dalam perjalanan tersebut juga baginda Rasulullah saw. dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib, diantaranya:
1)      Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. Apabila dituai, hasil yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang –ulang. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah kaum yang berjihad fisabilillah yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahakan sehingga gandaan yang lebih banyak.
2)      Tempat yang berbau harum. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah bau kubur Masyitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun ) bersama suami dan anak-anknya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh Fir’aun karena tetap teguh beriman kepada Allah ( tak mau mengakui Fir’aun sebagai tuhan).
3)      Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk bersujud (sembahyang).
4)      Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka dengan miecebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternak. Mereka makan bara api dan batu neraka jahannam. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.
5)      Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada disisi mereka. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan tersebut masing-masing sudah mempunyai istri/suami.
6)      Lelaki yang berenag dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang yang makan riba.
7)      lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tidak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang yang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.
8)      Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang-orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.
9)      Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang yang memaka daging manusia dan menjatuhkan martabat orang.
10)  Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang yang bercakap besar. Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.
11)  Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan berbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata jibril : itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, niscaya umat islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.
12)  Seorang perempuan duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah saw. tidak menghiraukannya. Kata jibril : itulahorang yang menyia – nyiakan umurnya sampai tua.
13)  Tiba di masjid Al-Aqsha, Rasulullah saw. turun dari buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimami sembahyang dua rakaat dengan seluruh anbia’ dan mursalin menjadi ma’mum.
14)  Rasulullah terasa dahaga, lalu dibawa jibril dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata jibril : Baginda membuat pilihan yang betul. Jika arak dipilih, niscaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.
b.   Mi’raj (naik ke Sidratul Muntaha)
 Adapun kata mi’raj artinya adalah tangga sebagai alat untuk naik atau semacam alat untuk naik dari bawah ke atas, menurut istilah dalam islam mi’raj adalah perjalanan pribadi nabi muhammad saw. naik dari alam bawah (bumi) ke alam atas (langit), sampai ke langit ke tujuh dan sidratul muntaha.
Didatangkan mi’raj yang indah dari syurga. Rasulullah saw. dan Jibril as. Naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).

Langit pertama:
Rasulullah saw. dan jibril as. Naik ke langit pertama, lalu berjumba dengan Nabi Adm as. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk.
Langit kedua:
Rasulullah saw dan jibril naik tangga langit kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi Isa as dan nabi Yahya as.
Langit ketiga:
Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf as.
Langit keempat:
Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan nabi Idris as.
Langit kelima:
Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan nabi Harun as. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.
Langit keenam:
Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan nabi-nabi. Seterusnya dengan nabi Musa as Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibril) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab.
Langit ketujuh:
Naik tangga langit ke tujuh dan masuk langit ketujuh lalu ketemu dengan nabi Ibrahim Kholilullah yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya.
Setelah beberapa melihat peristiwa lain yang ajaib, Rasulullah dan Jibril masuk ke dalam Baitul Makmur dan salat.
Tangga kedelapan:
Di senilah yang disebut “Al-kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul–Muntaha. Rasulullah saw. melihat berbagai keajaiban pada pokok itu: sungai air yang tidak berubah, sungai susu, sungai arak, sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah saw. dapat menyaksikan sungai al-kautsar yang terus masuk ke surga. Seterusnya baginda masuk ke surga dan melihat neraka beserta dengan malaikat malik penunggunya.
Malah dari tempat lebih tinggi dari langit tujuhlah, Allah menyampaikan perintah mulia untuk Baginda dan umatnya,, yaitu mengerjakan shalat. Pada mulanya, perintah shalat wajib itu menghendaki ia dilaksanakan 50 kali sehari semalam tetapi selepas Nabi Musa menasihatkan Rasulullah supaya meminta dikurangkan karena dia percaya umat Nabi Muhammad saw. tidak akan berdaya melakukannya, akhirnya mendapat keringanan Allah swt untuk mengerjakan lima waktu shalat saja. Selepas perintah shalat itu, Rasulullah kembali ke dunia dan tiba di Makkah ke Palestina, kemudian naik ke langit dan lebih tinggi sebelum menerima perintah shalat.
c.    Selepas Mi’raj
Rasulullah turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini Baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudian menjadi saksi peristiwa Isra’-Mi’raj yang amat ajaib itu (daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rajab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu a’lam.
Peristiwa isra’ dan mi’raj ini tidak akan dapat diyakini kebenarannya jika kita bersandar kepada fikiran sahaja, tetapi hendaklah diyakini berdasarkan iman dan pegangan kepada islam dan kebenaran Rasul. Sesungguhnya, mukjizat isra’ dan Mi’raj memperlihatkan kekuasaan Allah swt.
13.  Muharram
Tanggal 1 Muharram dalam kalender kaum muslimin sedunia telah tercatat sebagai hari bersejarah dalam kehidupan mereka. Pada 1426 tahun lalu Umar Bin Khattab, khalifah kedua telah mencanangkan 1 muharram sebagai awal kalender kaum muslimin.


14.    Halal Bihalal
Halal bihalal adlah kata yang sering diucapkan dalam suasana idul fitri yang merupakan suatu istilah keagamaan yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia, kamus bahasa indonesia menggantikan “acara maaf memaafkan pada hari lebaran” maka halal bihalal mengandung unsur silaturahmi.
Halal bihalal sebagai tradisi islam Indonesia tentulah akhir sejarah yang di gali dari kesadaran tokoh-tokoh umat masa lalu untuk membangun jalinan hubungan yang harmonis antara berbagai komponen umat untuk meluruskan permasalahan umat islam menuju yang lebih baik.
15.    Seni kaligrafi Al-Qur’an dan Al-Hadits
Seni kaligrafi yang artinya karya tulis tangan indah hasil kreasi estetik yang beguna untuk memenuhi kebutuhan jiwa muslim (rohani) dalam mencintai Al-Qur’an dan As- Sunah Nabi. Karena keindahannya, seni kaligrafi ini dapat difungsikan untuk hiasan, logo, stempel, sampul kitab, pesan-pesan tauhid dan moral bagi kaum muslimin, penulisan ayat-ayat Al-Qur’an, dan masih banyak lagi funsi-fungsinya.
Di Indonesia, seni kaligrafi ini telah berkembang mulai abad 12 masehi atau semenjak kerajaan islam muncul dan berdiri dibeberapa wilayah Indonesia, sepaerti Aceh, Demak, Ternate, Tidore, Maluku, Cirebon, Banten, Madura, Nusa Tenggara barat, dan sebagainya.
Adapun corak atau gaya seni kaligrafi, yang berkembang di Indonesia, antara lain, seperti gaya kufi, gaya naskhi, gaya Ri’ki, gaya Farisi, dan gaya Diwani.
Gaya kufi ini dibentuk oleh beberapa gaya geometris kaku dan matematik. Biasanya digunakan untuk manghias masjid, gedung – gedung pemerintah, tembok-tembok dingding istana raja, gapura masjid, majalah, benda-benda senjata, dsb.
16.  Hiasan (ornament) Arabeska
Ragam hias Arabeska, yaitu jenis hiasan yang salin jalin menjalin simpai, lilit melilit tumpang tindih seperti irama huruf Arab. Ragam hias ini sebenarnya sederetan huruf arab, tetapi dibentuk seperti bentuk binatang, manusia maupun buah-buahan, dan sebagainya.

17.  Kasidah
Kasidah adalah bentuk syair epik kesustraan arab yang dinyanyikan. Penyanyi menyanyikan lirik berisi puji-pujian untuk kaum muslim.
Lagu kasidah modern liriknya juga dibuat dalam bahasa indonesia selain arab. Grup kasidah modern membawa seornag penyanyi bintang yang paduan suara wanita. Alat musik yang dimainkan adlah rebana dan mandolin, disertai alat – alat modern, misalnya biola dll.


BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Beberapa tradisi Islam kita warisi sampai sekarang, antara lain ziarah ke makam, sedekah, sekaten. Setiap daerah dimana Islam masuk sudah terdapat tradisi masing-masing. Ada yang merupakan pengaruh Hindu dan Budha adapula tradisi asli yang sudah turun temurun. Seperti halnya di Sumatera, di daerah lainpun para muballigh memilih mempertahankannya namun dengan meberikan warna Islam.

B.  Saran
Pembelajaran tentang tradisi Islam nusantara akan lebih memahami tentang bagaimana Islam masuk ke Indonesia, bagaimana perjuangan para penyebar Islam di nusantara sehingga dapat meneladani dan mengharagai jasa - jasa para pahlawan agama dan bangsa tersebut.

Pendalaman terhadap sejarah membuat seseorang menjadi tahu dan mengerti serta bisa mengharagai pengorbanan para pendahulu mereka, dan dapat melestarikan kebudayaan - kebudayaan yang telah ada, yang tidak bertentangan dengan nilai - nilai moral dan agama.
Powered by Blogger.